Artikel

Bakat Potensi Lewat Sidik Jari menurut Jawa Pos

Ditambahkan oleh Tahta Bintang Pratama 10th March 2015

P

ERNAH nggak kamu disuruh orang tua buat Ies ini dan itu, padahal nggak mau? Ujung-ujungnya,

pasti kamu males ngejalanin dan nggak nerusin kan? Yap, ortu sering merasa bahwa anaknya

memiliki bakat sama dengan dirinya. Padahal, setiap anak dilahirkan dengan potensi dan

talenta yang berbeda. Jadi, bagaimana seharusnya?

 

 

Ada yang berbakat menulis, ada yang berbakat melukis, den sebagainya. Namun, seiring

dengan bertambahnya usia dan pengaruh factor lingkungan, adakalanya potensi kita bisa

memudar. Wajar, apa pun yang kurang terasah bisa terkurangi atau bahkan menghilang.

Sayang ya?

 

 

Karena itu, hendaknya kita mengetahui bakat dan potensi yang kita miliki sejak dini. Kalau

tahu sejak awal, mengembangkannya juga jadi lebih enak. Kita nggak perlu lagi menjalani

les-les yang tidak diminati. Selain itu, mengenali potensi anak sejak dini akan membantu para

orang tua bisa lebih mengarahkan dan mengembangkan bakat anak di jalur yang tepat.

 

 

Saat ini negara-negara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Taiwan telah mengembangkan

serta memakai sistem khusus. Cara tersebut bisa digunakan untuk mengenali bakat seseorang

sejak dini. Sistem itu disebut Dermatoglyphics Intelligence Capacity (Dic) Fingerprint

Analysis. Sesuai dengan namanya, sistem tersebut menggunakan fingerprint alias sidik jari

dalam mengungkap bakat alami seseorang.

 

 

Dermatoglyphics terangkai dari kata derma yang berarti kulit dan glyph yang berarti ukiran.

De´Čünisinya adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari teori epicdermal atau ridge skill

(ganris-garis pada permukaan kulit, jari-jari, telapak tangan, hingga kaki).

 

Para peneliti seperti Govard Bidloo (1685), Marcello Malpighi (1686), J.C.A. Mayer (1788),

John E. Purkinje (1823), Dr Henry Faulds‘ (1880), Francis Galton (1892), Harris Hawthome

Wilder (1897), dan Noel Jaquin (1958) menemukan bahwa epidermal ridge itu memiliki

hubungan yang bersifat ilmiah. Terutama dengan kode genetik dari sel otak dan potensi

inteligensia seseorang.

 

 

Lho, terus apa hubungannya antara sidik jari dan potensi otak? Ternyata semua itu berawal

dari perkembangan janin. Secara media, ditemukan bahwa formasi sidik jari manusia baru

terbentuk pada minggu ke-13, saat janin mulai berkembang.

 

 

Sidik jari tersebut mulai terbentuk sempurna pada minggu ke-19. Nah, saat sidik jari mulai

terbentuk, saat itu juga otak janin muiai bekerja dan berkembang secara simultan. Dengan

kata lain, sidik jari itu seperti peta yang menggambarkan potensi kecerdasan seseorang.

 

 

Seperti yang kita tahu, sidik jari tidak akan berubah sampai kita tua nanti, lho! Karena itu,

potensi kecerdasan alami yang dibawa sejak lahir, seperti gaya belajar, potensi bakat, dan

karakter, terdeteksi lewat analisis sidik jari. Hasilnya pun lebih akurat. (daf/bs/07/Idm)

 

 

Reff : Jawa Pos, Selasa 6 Juli 2010